BORONG, Timex-Situasi terkini di perbatasan Kabupaten Manggarai Timur (Matim) dan Ngada pasca aksi pemblokiran jalan oleh warga Buntal, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar sudah kembali kondusif. Hal ini ditandai dengan tidak adanya pemblokiran ruas jalan penghubung dua wilayah kabupaten itu.
Hal lain juga, warga di perbatasan itu kembali melakukan aktivitas seperti biasa sesuai dengan profesinya masing-masing. Di sana aparat kepolisian dari Polres Manggarai tetap berjaga di lokasi yang sempat tegang dan memanas itu.
Hal ini dikatakan Kapolres Manggarai, AKBP Pontjo Soediantoko ketika dihubungi koran ini, Kamis (8/3). Disampaikan Pontjo, semua material seperti kayu dan batu yang digunakan warga untuk pemblokiran jalan telah disingkirkan dan dibersihkan.
Alasan warga membolkir jalan, karena tidak menerima sikap Camat Riung, Kabupaten Ngada bersama rombongan yang melakukan kunjungan kerja di wilayah Elar, Kabupaten Matim. Ketika rombongan hendak pulang ke Riung, warga Buntal telah memblokir jalan dan rombongan inipun diarahkan
Saturday, March 10, 2012
Friday, March 9, 2012
Chris Rotok Menilai Camat Riung Provokator
POS-KUPANG.COM, BORONG -- Bupati Manggarai, Drs. Christian Rotok, menilai, kunjungan kerja inkonstitusional Camat Riung, Alfian S.Sos, bersama rombongan ke Moralante-Buntal, Desa Gololijun, Kecamatan Elar-Manggarai Timur, sebagai tindakan provokator. Kunjungan oknum yang tidak memahami aturan tersebut telah menginjak-injak nilai-nilai budaya Manggarai. Karena itu, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, menindak tegas dan menegur oknum-oknum tersebut.
"Sebelum masyarakat Manggarai Raya mengambil sikap sendiri, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, diharapkan bersikap tegas terhadap oknum tersebut," tegas Rotok kepada Pos Kupang melalui selulernya dari Ruteng ke Borong, Rabu (7/3/2012).
Menurutnya, kunjungan Camat Riung bersama rombongan ke wilayah Manggarai Timur merupakan tindakan provokator. Sebab tindakan itu termasuk kunjungan kerja inkonstitusional. Terhadap tindakan itu rasa solidaritas antar masyarakat Manggarai Raya akan bangkit menghadapi kondisi tersulit sekalipun dan dapat mengambil sikap sendiri.
"Masyarakat Manggarai Raya sangat mendukung surat Gubernur NTT tentang pengukuhan SK No. 22/1973. Kami akan gelar rapat bersama tiga kabupaten Manggarai di Ruteng, 12 Maret 2012 mendatang," jelas Rotok.
Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si, mengaku
"Sebelum masyarakat Manggarai Raya mengambil sikap sendiri, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, diharapkan bersikap tegas terhadap oknum tersebut," tegas Rotok kepada Pos Kupang melalui selulernya dari Ruteng ke Borong, Rabu (7/3/2012).
Menurutnya, kunjungan Camat Riung bersama rombongan ke wilayah Manggarai Timur merupakan tindakan provokator. Sebab tindakan itu termasuk kunjungan kerja inkonstitusional. Terhadap tindakan itu rasa solidaritas antar masyarakat Manggarai Raya akan bangkit menghadapi kondisi tersulit sekalipun dan dapat mengambil sikap sendiri.
"Masyarakat Manggarai Raya sangat mendukung surat Gubernur NTT tentang pengukuhan SK No. 22/1973. Kami akan gelar rapat bersama tiga kabupaten Manggarai di Ruteng, 12 Maret 2012 mendatang," jelas Rotok.
Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si, mengaku
Label:
Borong,
Konflik perbatasan,
manggarai,
Manggarai Timur
Pembangunan PLTP Ulumbu Rampung
Listrik tersebut sudah dialirkan ke pelanggan sehingga mampu menekan biaya operasi PLN yang tiap hari membakar solar cukup besar itu. "Untuk unit II sekarang sudah berjalan lancar," kata Dirut PT Dua Daya Sakti (DDS), Eko Budi, tadi malam. Sedangkan unit I diperkirakan awal April nanti sudah bisa |
Label:
manggarai,
PLN,
ruteng,
Satar Mese Barat,
ulumbu
Wednesday, February 29, 2012
Bayi Tewas Direnggut Air Ember Matex
POS-KUPANG.COM, RUTENG -- Tragis tak terbayangkan ketika Emil kembali menjempur pakaian, didapati Tari, bayi berusia sembilan bulan, memasukkan kepalanya ke dalam ember bekas cat matex yang terisi air cucian setengah.
Saat itu hari Senin (27/2/2012), pukul 08.00 Wita, Emil mencuci pakaian di halaman belakang rumahnya di Desa Ranggi, Kecamatan Rahong Utara, Manggarai.
Emil berusaha mengeluarkan Tari. Tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, matanya tertutup kemungkinan air masuk ke dalam telinga, hidung dan mulut. Masih terasa denyut nadinya, Emil berteriak histeris minta tolong kepada tetangga.
Bersama bayinya, Emil dan para tetangga berangkat ke Puskemas Golowatu dibonceng sepeda motor. Rupanya ajal telah lebih dulu menjemput Tari sebelum tiba di Golowatu, berjarak satu kilometer dari Ranggi.
"Saya ikut bersama-sama mengantar bayi ini ke pustu. Bidan yang memeriksanya menyatakan Tari mungkin sudah meninggal dalam
Saat itu hari Senin (27/2/2012), pukul 08.00 Wita, Emil mencuci pakaian di halaman belakang rumahnya di Desa Ranggi, Kecamatan Rahong Utara, Manggarai.
Emil berusaha mengeluarkan Tari. Tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, matanya tertutup kemungkinan air masuk ke dalam telinga, hidung dan mulut. Masih terasa denyut nadinya, Emil berteriak histeris minta tolong kepada tetangga.
Bersama bayinya, Emil dan para tetangga berangkat ke Puskemas Golowatu dibonceng sepeda motor. Rupanya ajal telah lebih dulu menjemput Tari sebelum tiba di Golowatu, berjarak satu kilometer dari Ranggi.
"Saya ikut bersama-sama mengantar bayi ini ke pustu. Bidan yang memeriksanya menyatakan Tari mungkin sudah meninggal dalam
Denda Akte Kelahiran Rp 1 Juta Diprotes
BORONG Timex, Rafor-Forum Penegak Keadilan dan Supremasi Hukum (FPKSH) Manggarai Timur (Matim) menggelar aksi demonstrasi di Kantor Dinas Pencatatan Sipil (Capil) Matim, Senin (27/2). Forum yang beranggotakan 15 orang ini mengkritisi proses pelayanan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh dinas tersebut.
FPKSH menilai pelayanan yang diberikan dinas itu tidak sopan dan tidak menunjukan sebagai pelayan yang baik. Selain itu, kebijakan denda administrasi sebesar Rp 1.000.000 bagi masyarakat yang terlambat mengurus akte kelahiran sangat tidak profesional. Denda itu dinilai
sangat memberatkan masyarakat.
Dalam orasinya, para pendemo menilai Kabupaten Matim selalu saja muncul dengan berbagai persoalan yang sangat akut dan menjadi korbannya adalah masyarakat biasa. Mereka juga menuding Sekretaris Dinas Pencatatan Sipil, Erik Fernandes dan Kepala Bidang (Kabid) Capil, Ferdi Lendo sebagai pejabat yang bergaya elitis.
Kata pendemo, kedua pejabat ini bukan seorang pelayan, tapi pengahalang pelayan, dimana ekspresi dan tutur katanya bukan seorang pelayan. Karena itu mereka mendesak Bupati Matim Yosep Tote agar kedua pejabat ini segera dimutasi.
Koordinator aksi, Eduardus
FPKSH menilai pelayanan yang diberikan dinas itu tidak sopan dan tidak menunjukan sebagai pelayan yang baik. Selain itu, kebijakan denda administrasi sebesar Rp 1.000.000 bagi masyarakat yang terlambat mengurus akte kelahiran sangat tidak profesional. Denda itu dinilai
sangat memberatkan masyarakat.
Dalam orasinya, para pendemo menilai Kabupaten Matim selalu saja muncul dengan berbagai persoalan yang sangat akut dan menjadi korbannya adalah masyarakat biasa. Mereka juga menuding Sekretaris Dinas Pencatatan Sipil, Erik Fernandes dan Kepala Bidang (Kabid) Capil, Ferdi Lendo sebagai pejabat yang bergaya elitis.
Kata pendemo, kedua pejabat ini bukan seorang pelayan, tapi pengahalang pelayan, dimana ekspresi dan tutur katanya bukan seorang pelayan. Karena itu mereka mendesak Bupati Matim Yosep Tote agar kedua pejabat ini segera dimutasi.
Koordinator aksi, Eduardus
Label:
Akte kelahiran,
Borong,
Demo,
Manggarai Timur
Dua Anggota Polisi Diadukan Warga
RUTENG, Timex-Dua anggota Polres Manggarai, Hironimus Juntung dan Anadap, Minggu (26/2) sekira pukul 22.30 wita nyaris dianiaya warga Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai. Keduanya menyelinap di rumah warga ketika hendak membekuk seorang yang diduga bandar kupon putih (KP). Merasa tidak puas warga pun melaporkan ke Polres Manggarai guna diproses secara hukum.
Demikian disampaikan pemilik rumah, Yosef Kebabu dan saudaranya Gregorius Antonius kepada koran ini di Mapolres Manggarai ketika hendak dimintai keterangan penyidik, Senin (27/2). Yosef menuturkan, sekira pukul 22.30 Wita, dua anggota polisi tersebut masuk menyelinap di pinggir rumahnya.
Menurutnya, tindakan dua anggota polisi ini seperti pencuri. Bahkan keduanya sengaja mematikan meteran listrik. "Saya kaget tiba-tiba listrik padam, lalu saya cek keluar tiba-tiba ada dua orang masih merunduk di pinggir tembok rumah. Saya pun kaget," katanya.
Saat itu, keduanya mengaku jika mereka yang mematikan meteran secara
Demikian disampaikan pemilik rumah, Yosef Kebabu dan saudaranya Gregorius Antonius kepada koran ini di Mapolres Manggarai ketika hendak dimintai keterangan penyidik, Senin (27/2). Yosef menuturkan, sekira pukul 22.30 Wita, dua anggota polisi tersebut masuk menyelinap di pinggir rumahnya.
Menurutnya, tindakan dua anggota polisi ini seperti pencuri. Bahkan keduanya sengaja mematikan meteran listrik. "Saya kaget tiba-tiba listrik padam, lalu saya cek keluar tiba-tiba ada dua orang masih merunduk di pinggir tembok rumah. Saya pun kaget," katanya.
Saat itu, keduanya mengaku jika mereka yang mematikan meteran secara
Subscribe to:
Posts (Atom)
LAGU MANGGARAI
LAGU INDO-BARAT
1. Bad Man